SEMINAR INTERNATIONAL “Awarness and diagnosis of thalassemia” SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA HUSADA BEKERJA SAMA DENGAN UNIVERSITAS TEKNOLOGI MARA ( UITM ) SHAH ALAM MALAYSIA
STIKES Wira Husada pada tanggal 26 September 2024 yang bertempat di Auditorium STIKES Wira Husada, bekerjasama dengan Universitas Teknologi Mara ( Uitm ) Shah Alam Malaysia. Pada kesempatan ini STIKES Wira Husada mengangkat tema “Awarness and diagnosis of thalassemia”, sebagai pembicara dalam kesempatan ini yaitu Prof. Dr. Wan Ismahanisa Ismail (Head of Centre Faculty of Health Sciences), dari UITM. dr. Dian Eko Astarini., M.Biomed (Praktisi Transfusi Darah) dan Handriani Kristanti.,S.Si.,M.Sc (Dosen dan Peneliti dari STIKES Wira Husada Program Studi Teknologi Bank Darah).
STIKES Wira Husada mengangkat tema ini karena, Thalasemia merupakan salah satu kelainan genetik hematologi yang umum ditemukan di Indonesia. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, diturunkan secara resesif dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas serta menimbulkan beban ekonomi yang berat pada masyarakat. Thalasemia merupakan penyakit anemia hemalitik dimana terjadi kerusakan sel darah merah di dalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit menjadi pendek (kurang dari 100 hari). Kita dapat mencegah terjadinya Thalaemia mayor dengan cara mencegah terjadinya pernikahan antar sesama pembawa sifat thalassemia.Berdasarkan data terdapat sekitar 7% populasi dunia sebagai pembawa sift Thalasemia dengan kematian sekitar 50.000-100.000 anak dimana 80%nya terjadi di negara berkembang. Indonesia merupakan negara dengan prevalensi karier thalasemia mencapai sekitar 3,8% dari seluruh populasi. (Kemkes, 2019). Pada acara ini sekaligus penandatanganan kerjasama antara STIKES Wira Husada dengan Universitas Teknologi Mara ( Uitm ) Shah Alam Malaysia. Salah satu isi dari kerjasama tersebut yaitu kolaborasi Jurnal dan seminar International.
Acara ini dibuka oleh Ketua STIKES Wira Husada Dr. Dra. Ning Rintiswati.,M.Kes. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, Seminar ini merupakan sala satu bentuk respon STIKES Wira Husada Yoyakarta yang pada permasalahan keseatan yang ada di masyarakat. Disamping itu merupakan aktivitas dalam rangka kerjasama dengan Universitas Teknologi Mara ( Uitm ) Shah Alam Malaysia. Kerjasama ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja kedua institusi kehususnya bidang Teknologi Bank Darah. Semoga seminar kerjasama ini dapat berlanjut dengan kegiaran yang lebih meluas bukan hanya seminar international saja, seperti riset bersama antara dosen STIKES Wira Husada Yogyakarta dengan Universitas Teknologi Mara ( Uitm ) Shah Alam Malaysia, sehingga dua institusi ini dapat berkembang bersama.
Pemberian transfusi darah bagi penyandang Thalassemia seumur hidup, rata-rata sebulan sekali, kemudian untuk mengeluarkan kelebihan besi dalam tubuh akibat transfusi darah rutin dan anemia kronik maka diberikan obat kelasi besi. Komplikasi Thalassemia seperti gagal jantung, gangguan pertumbuhan, pembesaran limpa, dan lainnya.

Berdasarkan rekomendasi PHTDI Indonesia transfusi darah rutin untuk pasien anak diberikan pada kadar Hb pretranfusi 9-10 gr %, dengan target Hb pasca transfusi antara 12-13 gr%. Hal ini bertujuan agar anak Thalassemia mayor dapat tumbuh dan kembang sesuai anak normal lainnya. Sangat dianjurkan pemberian darah aman dan adekuat untuk mencegah tertularnya penyakit yang dapat tertular melalui darah, misalnya hepatitis B, hepatis C dan HIV. Skrining darah donor menggunakan metoda “nucleic acid testing” (NAT). Sayangnya skrining metoda NAT ini tidak selalu tersedia disemua tempat, untuk itu dapat diusahakan menyediakan donor tetap yang sudah diskrining sebelumnya, selain itu pada pasien yang mendapat transfusi darah berulang seperti pasien Thalassemia, untuk mencegah terjadinya reaksi transfusi akibat pembentukan alloantibodi, dianjurkan untuk menggunakan darah rendah leukosit (leukoreduksi atau leukodeplesi), jika darah leukoreduksi tidak tersedia, dapat menggunakan bedsite filter saat transfusi. Pada sebagian besar penderita thalassemia mayor, diindikasikan transfusi darah seumur hidup karena adanya proses hemolitik yang terjadi terus menerus. Pemberian produk darah mengandung beberapa unsur yang berisiko dan berpotensi menimbulkan efek samping. Metabolisme sel darah merah selama penyimpanan dapat menyebabkan kebocoran pada membran sel darah merah sehingga terjadi peningkatan kadar kalium. Dalam rangka meningkatkan pengetahuan kepada mahasiswa dan masyarakat mengenai masalah kesehatan di Indonesia yaitu penyakit thalassemia yang mencakup kasus, kesadaran diri, diagnosis dan Terapi Transfusi PRC leukodepleted pada penderita thalassemia, untuk itu diadakan seminar internasional dengan tema “ Health problems of thalassemia in Indonesia”.
